SANDEQ.CO.ID, Polman – Keutamaan seorang pemimpin yang adil mendapatkan perhatian khusus dalam ajaran Islam. Pahala bagi seorang pemimpin yang menegakkan keadilan di tengah masyarakat dinilai lebih besar dibandingkan ibadah sunnah selama enam puluh tahun. Hal ini menjadi pengingat penting bagi para pejabat publik, aparat hukum, serta pemimpin di berbagai sektor agar senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan.
Imam Zakiuddin Abdul Ashim Al-Mundziri dalam kitab At Targhib wa Tarhib mengutip sejumlah hadits yang menggarisbawahi keutamaan pejabat publik dan pemimpin yang jujur serta berintegritas. Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan Thabrani menyebutkan :
“Dari sahabat Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda: Sikap adil sehari lebih utama daripada ibadah (sunnah) selama 60 tahun.” (HR. Ibnu Asakir dan Thabrani).
Hadits ini menegaskan bahwa ibadah sunnah selama puluhan tahun tidak sebanding dengan keutamaan keadilan yang ditegakkan oleh seorang pemimpin dalam sehari. Mengapa demikian? Karena keadilan menciptakan ketenangan, kesejahteraan, dan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat.
Dalam hadits lainnya disebutkan :
“Wahai Abu Hurairah, keadilan sesaat lebih baik daripada ibadah 60 tahun yang semalamannya diisi shalat dan siangnya dipakai berpuasa. Wahai Abu Hurairah, kezaliman sesaat dalam hukum lebih keras dan berat di sisi Allah daripada maksiat selama 60 tahun.” (HR. Asbihani).
Begitu pentingnya sikap adil bagi seorang pemimpin hingga Rasulullah SAW menegaskan bahwa pemimpin yang adil akan mendapatkan kedudukan istimewa di sisi Allah SWT pada hari kiamat. Sebaliknya, pemimpin yang zalim akan menjadi orang yang paling dibenci dan mendapatkan tempat yang jauh dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi :
“Orang yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan memperoleh kedudukan dekat dengan-Nya adalah seorang pemimpin yang adil. Orang yang paling dimurkai oleh Allah pada hari kiamat dan mendapatkan tempat yang paling jauh dari-Nya ialah pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi).
Dalam konteks kepemimpinan, Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki menjelaskan bahwa pemimpin tidak hanya terbatas pada kepala negara atau pejabat pemerintahan, tetapi juga mencakup kepala rumah tangga, guru, kepala bagian, komandan, serta pemimpin di berbagai organisasi. Setiap individu yang diberi amanah untuk memimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW :
“Masing-masing dari kalian adalah pemimpin, dan masing-masing dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpin.” (HR. Al-Bukhari, Muslim).
Islam memberikan penghargaan tinggi kepada pemimpin yang berpegang teguh pada nilai kejujuran, tanggung jawab, integritas, dan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya. Prinsip utama dalam Islam menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan bagi rakyatnya, bukan untuk dilayani. Oleh karena itu, setiap pemimpin, baik dalam skala kecil maupun besar, diharapkan dapat menegakkan keadilan dan memberikan manfaat bagi yang dipimpinnya.
Sumber : Disadur dari berbagai sumber
*Kepala Dinas Kominfo SP dan Pengurus Dewan Mesjid Indonesia (DMI) Polewali Mandar
Editor : Admin