Polman, SANDEQ.CO.ID – Tanah Mandar kembali dirundung duka yang teramat pekat. Langit kelabu seolah ikut menyaksikan kepulangan seorang ulama kharismatik, guru spiritual, sekaligus sang pembaharu sosial, Annangguru KH. Sybli Sahabuddin. Kepergian beliau ke haribaan Sang Khalik bukan sekadar kehilangan figur seorang tokoh agama bagi keluarga dekat, melainkan redupnya salah satu lentera peradaban yang selama ini menerangi jalan spritual dan intelektual masyarakat Sulawesi Barat serta Nusantara.
Sebagai seorang akademisi yang mengamati denyut nadi perkembangan sosial-keagamaan di wilayah ini, saya melihat almarhum bukan sekadar sosok ulama tradisional yang pasif di balik dinding pesantren. Beliau adalah seorang arsitek peradaban sosial. Di tengah laju zaman yang bergerak dinamis, Annangguru Sybli hadir sebagai jangkar moral sekaligus motor penggerak perubahan.
Untuk mengenang dan merefleksikan kembali jejak pengabdian beliau, terdapat empat kontribusi monumental yang telah beliau tancapkan di bumi Mandar Malaqbi, yang kini bertransformasi menjadi warisan historis dan inspirasi kolektif bagi kita semua :
Pertama : Menjaga Sanad Spiritual melalui Tradisi Tasawuf yang Bersahaja
Sebagai seorang Mursyid Tarekat Qodiriyah, Annangguru Sybli memikul amanah besar dalam merawat spiritualitas umat. Di era modern yang sering kali menjebak manusia dalam ruang hampa materialisme dan pragmatisme, beliau hadir menawarkan mata air kejernihan jiwa. Tasawuf yang beliau ajarkan bukanlah tasawuf yang menjauhkan diri dari realitas sosial (uzlah), melainkan tasawuf aktif. Beliau membumikan zikir dan pendekatan spritual sebagai instrumen untuk melahirkan kesalehan individu sekaligus kesalehan sosial. Kesederhanaan hidup dan kebersahajaan yang beliau perlihatkan adalah manifestasi nyata dari ilmu tasawuf yang sesungguhnya.
Kedua : Pionir Pendidikan Transformatif
Sintesis Pesantren dan Modernitas
Salah satu lompatan intelektual terbesar yang diwariskan almarhum adalah visinya dalam dunia pendidikan Islam. Melalui kiprah nyata di berbagai institusi, khususnya dalam membesarkan jaringan universitas lokal seperti Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman), beliau berhasil meruntuhkan tembok dikotomi antara ilmu agama (pesantren) dan sains modern. Beliau meyakini bahwa generasi masa depan Mandar tidak boleh gagap teknologi, namun di saat yang sama tidak boleh tercerabut dari akar spritualnya. Konsep integrasi ilmu inilah yang melahirkan corak pendidikan transformatif, membuka jalan bagi anak-anak daerah untuk bersaing di panggung nasional tanpa kehilangan identitas keislaman mereka.
Ketiga : Komunikator Keagamaan yang Inklusif dan Teduh
Dalam perspektif sosiologi dakwah, Annangguru Sybli memiliki keistimewaan yang jarang dimiliki oleh figur lain. Beliau adalah seorang jembatan komunikasi. Kitab-kitab kuning yang tebal dan dalil-dalil agama yang rumit mampu diterjemahkan oleh beliau ke dalam bahasa sosial yang sangat membumi, praktis, dan menyentuh realitas kehidupan masyarakat awam. Dakwah beliau bersifat inklusif—merangkul, bukan memukul; mendidik, bukan membidik. Keteduhan retorika beliau selalu berhasil meredam potensi gesekan sosial dan menjadi perekat ukhuwah di tengah keberagaman pemikiran umat.
Keempat : Menegakkan Khittah Politik Kesantunan Demi Kemaslahatan Umat.
Melangkah ke ranah publik yang lebih luas, keterlibatan Annangguru Sybli dalam panggung politik—baik saat menjadi senator di DPD RI maupun pimpinan partai politik di tingkat wilayah—menjadi preseden penting bagi kepemimpinan bangsa. Beliau mempraktikkan apa yang disebut sebagai politik kemaslahatan atau politik tingkat tinggi (high politics).
Bagi beliau, panggung politik murni merupakan instrumen pengabdian struktural untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat daerah dan mengawal nilai-nilai luhur kebudayaan Mandar di kancah nasional.
Beliau membuktikan bahwa moralitas agama dan etika pesantren dapat menjadi ruh penyembuh bagi dinamika politik yang sering kali dinilai kotor.
Menatap Masa Depan Mandar Tanpa Sang Guru.
Kini, raga sang ulama telah tiada. Suara teduhnya yang biasa mengalirkan kedamaian kini telah hening. Namun, sebagai insan akademis dan bagian dari masyarakat Mandar, kita tidak boleh membiarkan obor perjuangan yang telah beliau nyalakan ikut padam.
Tugas kita hari ini, terutama bagi generasi muda, para santri, dan kaum intelektual, bukan sekadar meratapi kepergian beliau dengan air mata. Tugas historis kita yang sesungguhnya adalah merawat, mengkaji, dan mengontekstualisasikan kembali empat pilar warisan peradaban yang telah beliau rintis.
Selamat jalan, Annangguru. Dedikasi, ilmu, dan cinta yang engkau tanam di bumi Mandar ini telah mengakar kuat. Tugasmu di dunia telah usai dengan husnul khatimah, dan kini giliran kami yang melanjutkan estafet perjuangan memuliakan tanah ini.
Lahul Fatihah.Fatihah.(*)
*Penulis adalah Akademisi STAIN Majene
Editor : Redaksi












