Polman, SANDEQ.CO.ID – Gelombang kekecewaan menyelimuti sejumlah mahasiswa Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) menyusul sikap Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Polewali Mandar yang dinilai tidak pantas dalam menolak surat permohonan magang dan riset penelitian. Penolakan tersebut disebut-sebut tidak sejalan dengan etika pelayanan publik, semangat memajukan dunia pendidikan, serta nilai gotong royong antara lembaga keuangan dan perguruan tinggi.
Ketua BEM Fakultas Agama Islam Unasman, Agus, menyoroti bahwa BRI sebagai bank berakar sejarah pada rakyat seharusnya menjadi tempat yang terbuka bagi pengembangan keilmuan, khususnya dalam mendukung pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Menurutnya, BRI selama ini dikenal bukan hanya sebagai lembaga transaksi keuangan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Karenanya, penolakan terhadap permohonan magang dan riset dinilai harus dijelaskan secara formal dan tertulis agar tak memicu salah paham di publik.
“Luar biasa disayangkan jika BRI Polewali Mandar dikelola oleh oknum yang minim rasa empati. Seharusnya BRI yang lahir dari rakyat bisa menghormati kreativitas mahasiswa, bukan malah bersikap menutup pintu dengan cara yang tak pantas,” ujar Agus.
Sementara itu, Ketua HMJ Subair menegaskan bahwa pihaknya datang dengan niat baik, bukan untuk mengusik operasional bank.
“Kami hadir untuk belajar, bukan mengganggu. Kami ingin mengerti dunia perbankan lewat jalur ilmiah dan akademik. Kalau permohonan kami ditolak, setidaknya beri penjelasan yang terang, tertulis, dan yang penting bersikap santun,” tutur Subair.
Para mahasiswa juga menyebut bahwa semangat BRI sebagai bank milik rakyat semestinya tercermin dalam pelayanan yang ramah terhadap semua lapisan warga, tak terkecuali mahasiswa yang sedang menjalankan kewajiban akademik. Mereka menyayangkan jika institusi sebesar BRI tak memberi ruang bagi mahasiswa daerah untuk melakukan riset yang bermutu.
Dalam pandangan mereka, kerja sama antara kampus dan dunia perbankan adalah bagian vital dari pembangunan daerah. Magang memberi mahasiswa pemahaman praktik operasional perbankan secara langsung, sementara riset memungkinkan kampus memberikan sumbangan akademik untuk memperbaiki layanan lembaga keuangan.
“BRI itu milik rakyat, secara makna sosial dan historis. Karena itu kami mencintai BRI. Tapi justru karena cinta itulah kami mengkritik. Kami ingin BRI Polewali Mandar menjadi lembaga yang terbuka, amanah, dan berpihak pada pendidikan,” lanjut mahasiswa tersebut.
Mahasiswa mendesak BRI Cabang Polewali Mandar agar memberikan klarifikasi resmi tentang alasan di balik penolakan surat permohonan tersebut. Mereka berharap penjelasan disampaikan secara tertulis agar menjadi pelajaran kolektif dan tak memicu anggapan adanya perlakuan diskriminatif maupun cara kerja yang tidak transparan.
Meski kecewa, mahasiswa bersikeras akan menempuh langkah damai, akademik, dan tetap menjaga martabat. Mereka mengajak sesama mahasiswa untuk bersatu menyuarakan keadilan—bukan dengan kebencian, melainkan keberanian menyampaikan kebenaran secara bertanggung jawab.
“Kami tidak sedang melawan BRI sebagai institusi rakyat. Kami hanya menolak perilaku yang tidak mencerminkan amanah, keterbukaan, dan keberpihakan pada pendidikan,” tegas mahasiswa.
Di tengah desakan peningkatan kualitas pendidikan daerah, keterbukaan lembaga seperti BRI terhadap mahasiswa adalah bagian dari komitmen moral membangun sumber daya manusia. Sebab maju tidaknya suatu daerah tak hanya diukur dari bangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari keberanian membuka pintu bagi ilmu pengetahuan, riset, dan generasi muda yang ingin belajar.
Respons Fakultas
Hingga berita ini diterbitkan, pihak fakultas telah mengambil langkah antisipatif dengan mendatangi BRI agar konflik antara mahasiswa dan bank tidak melebar. Pihak fakultas meminta kepala cabang untuk mengklarifikasi oknum pegawai BRI yang diduga berlaku tidak etis.
Muhammad Adam selaku ketua panitia menyampaikan bahwa pihak BRI berjanji akan memberikan jawaban secara tertulis. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa lembaga publik maupun korporasi yang melayani masyarakat memiliki peran penting dalam mendukung pendidikan. Mahasiswa, sebagai generasi penerus daerah, butuh ruang belajar, ruang riset, dan ruang dialog. Menutup akses akademik tanpa penjelasan yang layak hanya akan memperlebar jurang antara institusi dan masyarakat yang semestinya dilayani.(*)
Editor : Redaksi






