Prof. Dr. Hj. Wasilah Sahabuddin : Menenun Warisan Ulama,  Menjemput Masa Depan Pendidikan

Polman, SANDEQ.CO.ID – Mengenal lebih dekat Prof. Dr. Hj. Wasilah, S.T., M.T., adalah membaca perjalanan seorang perempuan yang memadukan keteguhan karakter, kecerdasan akademik, dan keberanian menatap masa depan. Di pundaknya, sebuah amanah besar kembali dipercayakan oleh Menteri Agama Republik Indonesia untuk menakhodai Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene, Provinsi Sulawesi Barat, pada periode kedua, 2025–2029. Kepercayaan ini bukan sekadar keberlanjutan kepemimpinan, melainkan juga tanggung jawab sejarah untuk membawa lembaga pendidikan Islam tersebut menuju babak baru peradaban akademik.

Bagi Prof. Wasilah, memimpin STAIN Majene bukan hanya tentang mengelola institusi, menjalankan program, atau menjaga roda birokrasi tetap berjalan. Lebih dari itu, terdapat cita-cita besar yang menuntut keberanian, kecermatan, dan visi jangka panjang, yakni mentransformasikan STAIN Majene menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Perubahan status ini bukan semata pergantian nama dan perluasan struktur kelembagaan, melainkan ikhtiar membangun ekosistem pendidikan tinggi Islam yang lebih luas, adaptif, kompetitif, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar nilai keislaman.

Di balik sosok akademisi perempuan yang tangguh dan visioner itu, terdapat jejak pendidikan keluarga yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupnya. Prof. Wasilah adalah putri mendiang Annangguru Prof. Dr. KH. Sahabuddin, ulama kharismatik Tanah Mandar, guru besar ilmu tasawuf yang dikenal luas di Asia Tenggara, sekaligus mursyid Tarekat Qadiriyah yang memiliki pengaruh spiritual di berbagai wilayah Sulawesi. Sosok sang ayah bukan hanya dikenal melalui keluasan ilmu dan kedalaman spiritualitasnya, tetapi juga melalui pengabdian dalam membimbing umat serta menjaga nilai-nilai keagamaan di tengah kehidupan masyarakat.

Tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan ilmu pengetahuan, tradisi keislaman, dan pengabdian spiritual tentu menghadirkan pengalaman pembelajaran yang khas. Dari sang ayah, Prof. Wasilah mewarisi sebuah teladan bahwa ilmu tidak seharusnya berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi harus menjelma menjadi tanggung jawab, keteguhan sikap, dan kebermanfaatan bagi sesama. Warisan semacam ini tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat yang panjang, tetapi tumbuh melalui keteladanan, kedisiplinan, serta cara seseorang menjalani kehidupan dengan prinsip dan keyakinan.

Namun, menjadi putri seorang ulama besar bukan berarti perjalanan hidupnya harus selalu berada dalam bayang-bayang kebesaran sang ayah. Justru di sanalah tantangan tersendiri terbentang: bagaimana menjadikan warisan keluarga sebagai sumber inspirasi tanpa kehilangan identitas dan kapasitas pribadi. Prof. Wasilah membangun jalannya sendiri melalui dunia akademik, menapaki ruang keilmuan yang menuntut ketekunan, kompetensi, dan kemampuan membaca perubahan. Ia menunjukkan bahwa penghormatan terhadap warisan orang tua dapat diwujudkan bukan dengan sekadar membawa nama besar keluarga, melainkan dengan menghadirkan karya dan pengabdian yang memiliki arti bagi masyarakat.

Karakter tangguh yang tumbuh dalam dirinya menjadi modal penting ketika ia dipercaya memimpin perguruan tinggi. Kepemimpinan pendidikan bukanlah perjalanan yang selalu lapang. Ada tuntutan untuk menyatukan berbagai pemikiran, membangun budaya kerja yang sehat, memperkuat kualitas sumber daya manusia, serta memastikan bahwa setiap kebijakan berpijak pada kepentingan institusi dan masa depan mahasiswa. Dalam situasi seperti itu, seorang pemimpin membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Ia memerlukan keteguhan moral, kejernihan berpikir, kesabaran menghadapi perbedaan, dan keberanian mengambil keputusan demi tujuan yang lebih besar.

Visi transformasi STAIN Majene menjadi UIN pun menuntut kerja yang tidak sederhana. Cita-cita tersebut perlu ditopang oleh kesiapan kelembagaan, penguatan kualitas dosen, pengembangan program studi, peningkatan penelitian, tata kelola yang akuntabel, serta pemenuhan berbagai persyaratan akademik dan administratif. Pada saat yang sama, identitas keislaman dan kearifan lokal Sulawesi Barat perlu tetap menjadi kekuatan yang membedakan STAIN Majene dari institusi lainnya. Di sinilah kepemimpinan Prof. Wasilah diuji: merawat nilai-nilai yang menjadi fondasi, sembari membuka jalan bagi inovasi dan perluasan cakrawala keilmuan.

Sebagai perempuan yang memimpin perguruan tinggi keagamaan negeri di Tanah Mandar, Prof. Wasilah juga menghadirkan pesan penting tentang kepemimpinan perempuan dalam dunia pendidikan. Ketangguhan tidak harus ditampilkan melalui suara yang keras, dan kewibawaan tidak selalu dibangun melalui jarak dengan orang lain. Keduanya dapat tumbuh melalui kemampuan mendengar, ketegasan menentukan arah, kecermatan membaca persoalan, serta konsistensi mempertanggungjawabkan amanah. Kepemimpinan yang demikian bukan hanya menggerakkan organisasi, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan dan menghidupkan harapan.

Perjalanan Prof. Wasilah memperlihatkan perjumpaan dua warisan yang saling menguatkan: kedalaman nilai spiritual yang tumbuh dari lingkungan keluarga ulama dan semangat kemajuan yang ditempa melalui dunia akademik. Dari Annangguru Prof. Dr. KH. Sahabuddin, terdapat teladan tentang ilmu, pengabdian, dan keteguhan spiritual; sementara dalam perjalanan profesionalnya sendiri, Prof. Wasilah memikul tanggung jawab untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam kerja kelembagaan, pengembangan pendidikan, dan pembangunan masa depan generasi muda. Warisan keluarga menjadi akar, sedangkan visi akademik menjadi arah bagi langkah-langkahnya.

Maka, mengenal lebih dekat Prof. Dr. Hj. Wasilah bukan semata mengenal seorang ketua yang dipercaya memimpin STAIN Majene untuk periode kedua. Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang membawa nilai-nilai pendidikan keluarga ke dalam ruang pengabdian yang lebih luas, dengan tantangan dan harapan yang tidak kecil. Transformasi menuju UIN akan menjadi salah satu penanda penting dari perjalanan kepemimpinannya. Sebab, kebesaran seorang pemimpin pada akhirnya tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diemban, tetapi dari perubahan yang berhasil diwujudkan, kesempatan yang dibukakan bagi generasi penerus, dan warisan kebaikan yang tetap hidup jauh setelah masa kepemimpinannya berakhir.(*)

*Penulis adalah Kepala Sekolah SMPN 4 Tapango.

Editor : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *