Majene, SANDEQ.CO.ID – Menapaki fase satu dekade eksistensinya, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene kini berada pada persimpangan krusial yang menuntut lebih dari sekadar selebrasi institusional.
Sepuluh tahun pertama telah berhasil merampungkan fase konsolidasi birokratis dan penataan infrastruktur dasar. Namun, menyongsong lanskap pendidikan tinggi global yang disruptif, institusi ini dituntut melakukan lompatan kuantum (quantum leap).
STAIN Majene harus mereformasi orientasi epistemologisnya untuk mendorong dirinya menjadi arsitek utama dalam merancang dan mengembangkan Islam Nusantara di kawasan timur Indonesia, bahkan di tingkat global.
Urgensi visi ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan sebuah keniscayaan geokultural.
Secara akademis, bangunan teoritis Islam Nusantara yang didefinisikan oleh KH. Afifuddin Muhajir sebagai dialektika harmonis antara nash (teks suci) dan ‘urf (budaya lokal), menemukan ruang artikulasi yang subur di tanah Mandar.
Wilayah ini ditopang oleh pilar filosofis Malaqbi—sebuah sistem aksiologi lokal yang mensinergikan kedalaman spiritualitas, keluhuran martabat, keterbukaan intelektual (adaq), dengan syariat (syaraq).
Meminjam perspektif KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengenai “Pribumisasi Islam”, proses ini bukanlah arabisasi kebudayaan, melainkan bagaimana manifestasi nilai universal Islam yang inklusif dan toleran (wasathiyah) mampu berdialog tanpa menegasikan partikularitas lokal. Proyek pribumisasi ini menemukan justifikasi ilmiahnya dalam teori antropologi Clifford Geertz tentang Local Knowledge (Pengetahuan Lokal). Geertz menegaskan bahwa pengetahuan tidak pernah bersifat monolitik, melainkan terikat pada konteks lokal (local context).
Islam Nusantara, dalam pembacaan Geertzian, adalah bentuk kelenturan kultural di mana Islam tidak menghancurkan struktur lokal, melainkan menyusup ke dalam jaring-jaring makna kebudayaan setempat.
Dalam konteks inilah, sebagai kampus Malaqbi, STAIN Majene memegang modal epistemik yang sangat valid untuk merumuskan ulang metodologi studi Islam kontemporer yang tidak lagi berkiblat tunggal pada pusat peradaban Timur Tengah. Dan dikaji di kampus-kampus barat.
Untuk mewujudkannya, diperlukan dekonstruksi terhadap pola pikir menara gading yang membuat kampus sekadar menjadi konsumen teori. Kampus harus bertransformasi menjadi produsen pengetahuan (knowledge production). Guna memutus ketergantungan epistemik tersebut, Teori Poskolonialitas Edward Said menjadi sangat relevan untuk mengingatkan bahaya hegemoni luar yang kerap mereduksi orisinalitas tradisi Timur.
Sebagai langkah taktis-visioner, STAIN Majene harus melakukan dekolonisasi metodologi melalui penyelamatan, restorasi, dan digitalisasi manuskrip keagamaan kuno di Mandar Sulawesi Barat.
Wilayah ini sangat kaya akan warisan filologi Islam maritim dan pemikiran tasawuf yang moderat. Tokoh-tokoh besar seperti Syekh Abdullah Mannan, Syekh Zakariah Hasan Al Yamani, RM Suryodilogo, Syekh Maruf, Abdurahman Kamaluddin, hingga para imam Masjid Taqwa Pambusuang seperti Annangguru Ga’de, Annangguru Nuh, KH Muhammad Thahir (Imam Lapeo), dan Annangguru Muhammad Shaleh, Annangguru Madeppungan, merupakan deretan pemikir berpengaruh yang membutuhkan riset mendalam.
Dialektika hukum adat-syaraq serta genealogi penyebaran Islam yang moderat dari para tokoh ini harus diangkat menjadi objek riset empiris berskala internasional melalui metodologi yang rigid dan multidisipliner.
Dalam perspektif futuristik, tantangan terbesar Islam Nusantara di dekade mendatang adalah kontestasi ideologi transnasional yang teramplifikasi oleh algoritma digital. Polarisasi pemikiran keagamaan rentan mengikis kohesi sosial dan integrasi bangsa.
Di sinilah STAIN Majene harus mengambil peran sebagai center of excellence yang memformulasi kontranarasi ilmiah. Melalui kajian strategis, kampus berkewajiban merumuskan manifesto pemikiran Islam yang wasathiyah, inklusif, dan humanis, sekaligus memposisikannya sebagai resolusi konflik keagamaan di tingkat regional maupun nasional.
Oleh karena itu, transformasi institusional menuju Institut (IAIN) atau Universitas (UIN) yang tengah dibidik dalam peta jalan strategis kampus, tidak boleh hanya dimaknai sebagai perluasan nomenklatur program studi atau pembesaran skala birokrasi.
Perubahan bentuk tersebut harus menjadi jika manifestasi dari kematangan distingsi akademik. Khittah pengembangan keilmuan STAIN Majene wajib mengintegrasikan epistemologi Islam universal dengan kearifan lokal Nusantara secara integral. Tanpa distingsi yang kuat, ekspansi kelembagaan hanya akan melahirkan replikasi tanpa substansi.
Satu dekade pertama adalah peletakan batu penjuru. Menatap masa depan, STAIN Majene harus melangkah melampaui batas-batas geografisnya untuk memimpin orkestrasi pemikiran keagamaan di Indonesia. Dengan komitmen kolektif, akselerasi mutu riset, dan penguatan jejaring global, ikhtiar meneguhkan kampus ini sebagai episentrum dan arsitek kajian Islam Nusantara akan menjadi sumbangsih monumental.
Sebuah persembahan peradaban dari tanah Mandar yang Malaqbi, bergerak dari lokalitas menuju panggung global, untuk mens ukseskan generasi emas 2045 mendatang.(*)
Editor : Redaksi












