Majene, SANDEQ.CO.ID – Dunia akademik dan keagamaan di Sulawesi Barat patut berbangga. Prof. Dr. Bahruddin, S.Ag., M.Ag., seorang pendidik, pemikir, sekaligus penggerak moderasi beragama, telah mencapai puncak karir akademiknya. Ia baru saja dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Tafsir Ahkam pada Fakultas Syariah Hukum Akhwal Syakhsiyah. Bagi Prof. Bahruddin, pencapaian ini bukanlah sekadar gelar akademik semata, melainkan wujud pengabdian dan keteladanan yang mencerminkan prinsip hidupnya :
“Jadilah seperti Garam yang sederhana tapi dibutuhkan semua orang”.
Lahir dan Tumbuh dalam Cahaya Ilmu Agama
Lahir di Majene pada 2 Maret 1973, Bahruddin tumbuh dalam keluarga besar dengan 9 bersaudara yang menjadikan ilmu agama sebagai pedoman dan cahaya kehidupan. Darah pendidik mengalir kuat dari kedua orang tuanya. Ayahnya, H. Umar Yakub, adalah pensiunan guru Kementerian Agama, sedangkan ibunya, Hj. ST. Hawa Syukur, merupakan pensiunan guru agama di Majene.
Tradisi mendidik di keluarganya sudah mengakar hingga ke generasi kakeknya dari pihak ibu, yakni Abdul Syukur. Sejak tahun 1962, sang kakek dikenal sebagai “guru pangaji” di Saleppa, Majene, yang mengajarkan Al-Qur’an dan kitab-kitab fikih.
Bahruddin muda menempuh pendidikan dasarnya di sekolah Arab dan SD Negeri 6, sebelum akhirnya digembleng kedisiplinan ilmu agama di Pondok Pesantren DDI Baruga hingga tamat pada tahun 1991. Di pesantren inilah ia terbiasa dengan disiplin ketat, termasuk rutinitas belajar agama di pagi hari.
Merajut Karir dari Watampone
Fokus keilmuan Bahruddin berada di bidang Tafsir Ahkam. Perjalanan akademiknya dimulai dari program studi Tafsir Hadis di IAIN Alauddin pada 1991, kemudian berlanjut ke program pascasarjana konsentrasi Tafsir pada 1996. Puncak pendidikan formalnya ia selesaikan melalui program doktoral di UIN Alauddin Makassar pada tahun 2014.
Karirnya sebagai akademisi bermula pada 1999 saat ia diterima sebagai dosen CPNS formasi Tafsir di STAIN Watampone, Kabupaten Bone. Di sana, ia menimba banyak pengalaman dan inspirasi dari tokoh agama seperti K.H. Muh. Rusyaid (Alm) dan Prof. Dr. H. Saifuddin (Alm). Ia juga sempat mendermakan ilmunya di Pesantren Ujung. Secara administratif, karirnya terus menanjak dengan mengemban sejumlah jabatan strategis di STAIN Watampone pada tahun 2004, mulai dari Ketua Program Studi Muamalah, Ketua Program Studi Ekonomi Syari’ah, hingga Plt Sekretaris Jurusan.
Tak hanya di kampus, kiprahnya juga meluas ke ranah publik saat ia dipercaya menjadi pelaksana Pengawas Pemilu (Bawaslu) dari tingkat kabupaten hingga provinsi di Sulawesi Barat.
Dalam menjalani padatnya karir tersebut, ia selalu didampingi oleh istri tercinta, Syarfia Usman, S.Pd., beserta ketiga putra mereka : Ikhwan Nabil al-Naqy, Sulfan Abiyasa Ahsan, dan Sultan Atilla Yaksan.
Pulang Kampung dan Misi Moderasi Beragama
Pada tahun 2017, kerinduan untuk membangun kampung halaman membawa Bahruddin kembali ke Majene. Kepindahan ini didukung oleh rekomendasi Dirjen Pendis saat itu, Prof. Dr. Kamaruddin Amin. Rasa syukurnya atas kesempatan mengabdi di tanah kelahiran semakin lengkap ketika ia juga diberi amanah untuk menjadi Ketua STAI DDI Majene pada masa transisi (2017–2018).
Dedikasi Bahruddin terhadap Islam yang damai menjadikannya sosok penggerak moderasi beragama.
Kiprah ini mengantarkannya menjadi Trainer Nasional Moderasi Beragama sekaligus didapuk sebagai Ketua Rumah Moderasi Beragama di STAIN Majene pada tahun 2022.
Sebagai akademisi (Lektor Pembina Utama IV/c), Prof. Bahruddin sangat produktif menelurkan karya yang menjawab persoalan umat. Ia menulis buku tentang zakat profesi, panduan khutbah bahasa Mandar, stigma perempuan dan penguatan ekonomi keluarga di Sulawesi Barat, hingga pelayanan keagamaan untuk masyarakat marginal. Ia juga aktif menerbitkan jurnal bereputasi (Scopus dan Sinta), membahas berbagai topik seperti Living Qur’an dalam kearifan lokal Sibaliparri di Mandar (2023), hak-hak perempuan kontemporer (2023), hingga dekonstruksi penafsiran ayat jihad untuk menangkal radikalisme (2022).
Kini, di puncak kematangan akademiknya, sang Guru Besar Tafsir Ahkam ini mempersembahkan pencapaiannya untuk orang tua tercinta yang masih hidup, istrinya, dan seluruh keluarga besar Baruga. Ia membuktikan bahwa pengabdian tulus akan selalu menjadi cahaya ilmu yang menerangi, persis seperti garam yang sederhana namun dibutuhkan oleh semua orang.(amr).
Editor : Redaksi Editor Gambar : Gemini AI








![Liga Dangdut Sampai Forum Diskusi Warnai Hari Donor Darah Sedunia [HDDS] Di Polewali Mandar Liga Dangdut Sampai Forum Diskusi Warnai Hari Donor Darah Sedunia [HDDS] Di Polewali Mandar](https://sandeq.co.id/wp-content/uploads/2021/06/IMG20210614120504-300x178.jpg)



