Abstrak
Pendidikan di era globalisasi seringkali terjebak dalamq pragmatisme yang melepaskan individu dari akar budayanya. Esai ini bertujuan untuk mengeksplorasi sinergi antara filsafat pendidikan Islam (Ta’dib) dengan nilai filosofis Malaqbiq dalam kebudayaan Mandar. Melalui pendekatan hermeneutika budaya, ditemukan bahwa integrasi nilai spiritual dan lokalitas bukan sekadar pelestarian tradisi, melainkan sebuah kebutuhan epistemologis untuk membentuk manusia yang utuh. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsep Malaqbiq merupakan manifestasi praktis dari nilai-nilai akhlak Islam yang mampu menjadi benteng karakter bagi generasi muda di Sulawesi Barat.
Kata Kunci : Pendidikan Islam, Malaqbiq, Mandar, Integrasi Budaya, Karakter.
Pendahuluan
Diskursus mengenai filsafat pendidikan Islam selalu bermuara pada pembentukan “Insan Kamil” atau manusia sempurna. Namun, dalam implementasinya, pendidikan seringkali bersifat universal-abstrak sehingga kehilangan relevansi sosiologis dengan masyarakat setempat. Di Tanah Mandar, terdapat sebuah sistem nilai yang telah berurat akar selama berabad-abad, yakni filosofi Malaqbiq. Sebagai seorang akademisi dan birokrat yang terjun dalam dunia dakwah, penulis memandang bahwa memisahkan Islam dari ruh kebudayaan Mandar adalah sebuah kerugian intelektual. Esai ini berargumen bahwa pendidikan Islam yang efektif adalah pendidikan yang mampu “berbicara” dalam bahasa kebudayaan lokal.
Ontologi Malaqbiq dalam Bingkai Wahyu
Dalam filsafat Islam, pendidikan adalah proses Ta’dib, yaitu penanaman adab yang membuat seseorang mampu meletakkan sesuatu pada tempatnya secara adil. Dalam konteks lokal, adab ini mewujud dalam konsep Malaqbi. Secara ontologis, Malaqbiq bukan sekadar nampak mewah atau terpandang secara lahiriah, melainkan sebuah kedalaman eksistensi yang mencakup kesantunan tutur kata (Malaqbi Pau), kemuliaan perilaku (Malaqbi Kedzo), dan kejujuran nurani (Malaqbi Ate).
Keterikatan antara Malaqbiq dan iman sangatlah erat. Seorang yang beriman secara benar pasti akan Malaqbiq dalam pergaulan sosialnya. Pendidikan di Mandar harus mampu mentransformasi ruang kelas menjadi ruang “Meguru”, di mana nilai-nilai ketauhidan disalurkan melalui instrumen budaya yang akrab dengan keseharian masyarakat, seperti filosofi pelaut Mandar yang tangguh namun tunduk pada hukum alam (Sunnatullah).
Epistemologi Pendidikan Berbasis Local Wisdom
Proses pencapaian ilmu dalam Islam tidak hanya bersandar pada rasio (Aql), tetapi juga pada intuisi kalbu (Qalb). Pendidikan di Sulawesi Barat harus mengadopsi prinsip Sipamandaq (saling menguatkan) sebagai metodologi pembelajaran. Jika dalam pendidikan modern kompetisi menjadi panglima, maka dalam filsafat pendidikan Islam-Mandar, kolaborasi dan keberkahan ilmu adalah tujuan utama.
Guru dalam perspektif ini tidak hanya bertindak sebagai fasilitator, tetapi sebagai Annangguru yang menjadi uswatun hasanah. Transformasi nilai terjadi melalui proses Pitu Ba’ba Binanga, yang secara filosofis melambangkan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan dari luar namun tetap memiliki filter moral yang kuat dari dalam. Hal ini penting agar transformasi birokrasi pendidikan tidak hanya menyentuh aspek administratif, tetapi juga menyentuh aspek substantif-kultural.
Rekonstruksi Karakter di Era Disrupsi
Tantangan pendidikan hari ini adalah derasnya arus informasi yang mengaburkan identitas diri. Integrasi filsafat Islam dan kearifan Mandar menawarkan solusi berupa ketahanan budaya (cultural resilience). Pendidikan Islam yang terintegrasi dengan budaya Mandar akan melahirkan individu yang memiliki kecerdasan global namun tetap memegang teguh Siri (harga diri/rasa malu) yang islami.
Sebagai muballigh, penulis melihat bahwa dakwah melalui jalur pendidikan kebudayaan adalah cara paling efektif untuk menyentuh akar rumput. Masyarakat Mandar yang religius akan lebih mudah menerima pesan-pesan Islam ketika pesan tersebut dibalut dengan nilai-nilai luhur leluhur mereka yang tidak bertentangan dengan syariat.
Kesimpulan
Pendidikan Islam di Tanah Mandar harus menjadi entitas yang hidup dan bernapas dalam kebudayaan. Integrasi antara nilai Malaqbiq dan filosofi pendidikan Islam menciptakan sebuah model pendidikan yang kokoh secara spiritual dan relevan secara sosial. Ke depan, kebijakan pendidikan di daerah harus berani menonjolkan identitas lokal ini sebagai keunggulan kompetitif. Dengan demikian, kita tidak hanya mencetak lulusan yang mahir secara teknis, tetapi juga generasi yang Malaqbiq—manusia-manusia mulia yang membawa rahmat bagi alam semesta melalui pengabdian yang tulus kepada Tuhan dan tanah air.(*)
*Penulis adalah seorang Birokrat, Akademisi dan Muballigh Sulawesi Barat
Editor : Redaksi












