Polman, SANDEQ.CO.ID – Mendukung Indonesia mencapai target penyerapan emisi karbon pada tahun 2030, Yayasan Mandar Peduli Lingkungan (MAPIA) melaksanakan program edukasi aksi dengan melaunching kegiatan Calon Pengantin (Catin) Tanam pohon di Desa ongko, (30/05).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa beserta jajarannya dan juga tokoh masyarakat. Selain itu, sebagai wujud penguatan kegiatan, hadir Syamsuddin sebagai calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan pada awal Juni mendatang.
Trisno Apri Nugroho selaku Direktur MAPIA menyebutkan, data pernikahan tahun 2025 sebanyak 3.341 calon pengantin melangsungkan pernikahan. Angka yang mencapai ribuan itu menunjukkan nilai strategis untuk dituangkan dalam bentuk kebijakan terhadap kelangsungan penghijaun di Polewali Mandar.
“Bisa kita membayangkan betapa rindang, asri serta tentu ada implikasi ekonomi bagus di kampung kita jika konkret setiap calon pengantin menanam pohon,” sebut Apri.
Catin menjadi objek pelaksanaan kegiatan tanam pohon karena MAPIA memiliki pandangan, data pernikahan di Polewali Mandar yang tercatat setiap tahunnya mesti diikutkan dengan aktivitas positif terhadap penghijauan. Apalagi daerah ini merupakan daerah agraris. Maka, pohon yang ditanam mesti memperhatikan jenis dan manfaatnya.
“Kami fokus pada tanaman produktif seperti aren yang kita tanam hari ini. Aren mampu menyerap hingga 40 kilogram karbon dioksida setiap tahun, air nira dari aren bisa dibuat gula, akarnya serabut kuat mampu menahan abrasi, erosi, serta longsor,” Ungkapnya.
Selain aren, pohon yang menjadi fokus MAPIA untuk ditanam melibatkan catin ialah kopi dan nangka. Pemerintah Desa pun sangat antusias menyambut program yang sedang dilaksanakan perkumpulan anak-anak muda ini. Dalam keterangannya, Kepala Desa, Sahariah mengutarakan apresiasinya karena telah menempatkan launching kegiatan yang menurutnya bagus dan positif itu di desa yang dia pimpin.
“Saya membayangkan dampak ekonomi dan kesejahteraan yang terjadi di masyarakat dengan aktif menanam pohon apalagi itu pohon seperti aren dan atau seperti yang disebutkan Direktur tadi. Kami mendukung kegiatan ini dan dimaksimalkan tindak lanjutnya,” Kata Kepala Desa perempuan ini.
Begitu juga dengan Syamsuddin yang hadir. Dirinya merasa sangat bangga dilibatkan kendatipun calon istrinya tidak dapat hadir karena tradisi pingitan calon pengantin di mandar yang mesti dijalankan dan dihormati.
“Kami merasa sangat dihormati disebabkan sebagai calon suami istri pertama menanam pohon dan ini merupakan simbol cinta bagi kami,” Tuturnya.
Pemerintah mesti mendukung kegiatan ini dalam bentuk kebijakan. Selain itu, Kantor Kementerian Agama Polewali Mandar juga sebaiknya memasukkan materi ekoteologi aktif pada saat catin melaksanakan proses bimbingan perkawinan terlihat dengan menanam pohon.(*)
Editor : Redaksi












