Majene, SANDEQ.CO.ID – Kiprah Dr. Aco Musaddad HM, S.Ag., M.Ag., M.Si. menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai keteladanan pesantren mampu bertransformasi menjadi modal berharga dalam tata kelola pemerintahan.
Menatap Hari Santri Nasional, rekam jejak akademisi yang baru saja beralih tugas menjadi Dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene per 1 Oktober 2026 ini, menyajikan narasi inspiratif tentang bagaimana totalitas “nyantri” membentuk karakter seorang birokrat yang melayani, responsif, dan adaptif.
Sebelum kembali mengabdi di dunia kampus, Dr. Aco Musaddad HM telah malang melintang menduduki berbagai jabatan strategis di Pemerintahan Kabupaten Polewali Mandar (Pemkab Polman).
Ia tercatat pernah mengemban amanah sebagai Kadis Kominfo SP, Plt. Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata, hingga Plt. Kepala Bapperida. Jabatan terakhirnya di Pemkab Polman sebelum bertransisi menjadi akademisi adalah sebagai Staf Ahli Bupati Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan.
Di lingkungan ASN, ia dikenal luas sebagai, Inovator, narasumber yang vokal menggaungkan ASN Core Values (BerAKHLAK) dan kepemimpinan problem solving, membawa kearifan lokal ke dalam birokrasi modern.
Fondasi kepemimpinannya yang kokoh tersebut tidak lepas dari perjalanan spiritual dan intelektualnya di empat pesantren yang berbeda :
- Pesantren DDI Al Muttaqin Wattang (Polewali Mandar), Tempatnya menimba ilmu agama perdana di waktu siang hingga sore hari selepas pulang dari SD 1 Polewali. Pesantren yang kerap dijuluki “Sekolah Arab” oleh masyarakat setempat ini didirikan oleh KH. Nursyamsi Abu Yazid atas restu Ulama Kharismatik AGH. KH. Abd Rahman Ambo Dalle, dengan fokus utama pada penguasaan Bahasa Arab serta Nahwu Sharaf.
- Pesantren Pondok Madinah (Makassar), Di sinilah ia berkesempatan mereguk ilmu langsung dari para tokoh keagamaan terkemuka bangsa, mulai dari AGH. KH. Sanusi Baco, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar (Menteri Agama RI), Prof. Dr. Hj. Musda Mulia, hingga Prof. Dr. Azhar Arsyad.
- Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Makassar, Sebuah pesantren negeri rintisan Menteri Agama Prof. Dr. Munawir Syadzily yang dikhususkan sebagai sekolah pengkaderan ulama. Di sini, ia digembleng oleh deretan ulama alumni Timur Tengah dan tokoh-tokoh senior Pesantren As’adiyah.
- Pesantren Modern Putra IMMIM Makassar, Setelah menuntaskan pendidikan S1, S2, hingga S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ia kembali ke dunia pesantren bukan lagi sekadar sebagai murid, melainkan sebagai pembina dan pengajar. Di IMMIM, ia sempat dipercaya mengemban posisi Wakil Kepala Kampus hingga Kepala Laboratorium Bahasa.
“Di IMMIM, saya merasa nyantri lagi, mengulangi apa yang telah saya peroleh untuk diajarkan kembali kepada para santri,” ungkap DR. Aco Musaddad HM.
Pengalaman berlapis sebagai santri inilah yang melekat kuat, memudahkannya merumuskan kebijakan publik yang humanis dan berbasis kerja serumpun selama mengabdi untuk masyarakat Polewali Mandar, dan kini berlanjut dalam mencetak generasi intelektual muslim yang moderat di STAIN Majene.(*)
Editor : Redaksi












