Mengakar di Bumi Sulbar, Menyapa Peradaban : Orientasi Pandu Ma’arif NU Tanamkan Moderasi Beragama bagi Kader Bangsa

Polewali Mandar, SANDEQ.CO.ID – Dalam heningnya rimbun pepohonan dan aliran sungai yang membasuh kaki Gunung Salupajaan, sebuah gerakan besar perlahan tapi pasti menggeliat. Wisata Alam Salupajaan Kanang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menyaksikan rangkaian khidmat Orientasi Badan Penggerak Pandu Ma’arif Nahdlatul Ulama Tingkat Nasional. (2/4/2026).

Tiga hari penuh, 2 s/d 4 April, menjadi ruang tempa bagi 200 peserta se-Sulbar untuk merenungi tema besar: “Merawat Jagat, Membangun Peradaban: Internalisasi Moderasi Beragama untuk Kader Pemimpin Bangsa yang Berkarakter dan Berdaya Saing Global.”

Kegiatan yang merupakan buah kolaborasi harmonis antara Pengurus Sako Pandu Ma’arif NU Nasional dan Pengurus Wilayah Sulawesi Barat ini tak sekadar menjadi ajang seremonial, melainkan laboratorium kepemimpinan berbasis nilai-nilai keagamaan yang toleran, inklusif, dan berwawasan lingkungan.

Hadir dalam Pembukaan barisan tokoh yang memberi semangat: Ir. Farid Wahid (Ketua Kwartir Cabang Polman), Dr. H. Adnan Nota, MA (Ketua PW NU Sulbar), serta H. Samsul Mahmud, Bupati Polewali Mandar yang turut menyaksikan langsung antusiasme para kader muda. Momen paling dinanti adalah ketika Kak Soleh Abwa, Sekretaris Jenderal Sako Pandu Ma’arif NU Nasional, secara resmi membuka kegiatan.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa gerakan kepanduan NU harus menjelma menjadi lokomotif penguatan moderasi beragama di tengah arus globalisasi.

“Kader pandu tidak cukup hanya terampil. Ia harus berkarakter, mencintai tanah air, menghormati perbedaan, dan mampu bersaing di kancah dunia tanpa kehilangan akar budaya serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah,” ujar Kak Soleh di hadapan para peserta yang membalut semangat dalam seragam cokelat Pramuka.

Sepanjang orientasi, peserta dibekali materi mulai dari kepemimpinan adaptif, konservasi alam, hingga strategi membendung paham radikal melalui pendekatan kemanusiaan.

Tak mengherankan jika lokasi yang dipilih Salupajaan Kanang bukan sekadar latar indah, melainkan simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Sungai mengalir, angin berbisik, dan semangat persaudaraan merasuk dalam setiap simpul tali alam yang harmonis.

Kesuksesan acara ini menjadi bukti bahwa NU Sulbar dan jajaran nasional serius mencetak kader bangsa yang tak hanya cerdas secara intelektual, namun juga matang secara spiritual dan sosial.

“Kami ingin para peserta pulang membawa api perubahan, menjadi agen peradaban di kampung halaman, serta menjadi pamong di gugus depan masing-masing” tutup Kak Soleh.

Dengan berakhirnya orientasi, langkah Pandu Ma’arif NU kian mantap. Di tengah gemuruh zaman, mereka memilih merawat jagat karena dari situlah peradaban sejati dibangun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *