Hadiri Milad ke-26 YASPIDA, Menteri Nusron: Santri Harus Siap Menjadi Ulama, Teknokrat, dan Pemimpin Bangsa

Berita13 Dilihat

Sukabumi, SANDEQ.CO.ID – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menegaskan bahwa santri tidak boleh hanya berhenti sebagai pewaris tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga harus mempersiapkan diri menjadi aktor utama pembangunan bangsa. Hal itu disampaikannya saat menghadiri peringatan Milad ke-26 Pondok Pesantren Darussyifa Al-Fithroh YASPIDA di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (5/6/2026).

Dalam sambutannya di hadapan ratusan santri dan pengasuh pondok, Menteri Nusron mengajak generasi muda pesantren untuk memiliki visi besar dalam tiga peran strategis, yakni ulama yang menebarkan ilmu agama, teknokrat yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pemimpin bangsa yang mampu mengambil kebijakan.

“Santri harus siap menjadi pemimpin di berbagai bidang. Ada yang menjadi ulama, ada yang menjadi teknokrat, dan ada yang menjadi pemimpin bangsa. Semua harus dipersiapkan sejak sekarang agar mampu memberikan kemanfaatan bagi masyarakat,” ujar Nusron dengan penuh semangat.

Ia pun meminjam analogi dari ilmu nahwu, di mana santri saat ini berposisi sebagai mudhaf ilaih (yang disandarkan). Namun kelak, kata dia, para santri wajib menjadi mudhaf (inti) yang tidak hanya menerima estafet kepemimpinan, tetapi juga mampu menggantikan dan melanjutkan peran para pendahulu.

Lebih lanjut, Menteri Nusron menjelaskan bahwa kemajuan masyarakat dan terwujudnya kesejahteraan umat memerlukan sinergi tiga unsur penting yang diajarkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Ketiganya adalah ilmu para ulama (ilmal ulama), kebijaksanaan teknokrat dan pelaksana kebijakan (hikmatal hukama), serta kepemimpinan dan wawasan kebangsaan (siyasatul muluk).

“Pesantren adalah tempat yang tepat untuk mencetak generasi yang menguasai ketiga bidang ini. Jangan sampai santai, apalagi apatis,” tegasnya.

Menteri Nusron juga secara khusus mendorong para santri untuk meningkatkan literasi politik. Menurutnya, santri tidak boleh buta atau alergi terhadap dinamika kebijakan publik.

“Santri tidak boleh apatis terhadap politik. Santri harus memahami kebijakan publik dan kehidupan berbangsa agar mampu ikut menentukan arah pembangunan bangsa. Politik di sini adalah politik kebangsaan, bukan politik praktis yang sempit,” tambahnya.

Acara Milad ke-26 tersebut juga dimanfaatkan Menteri Nusron untuk menyerahkan sertipikat tanah wakaf secara simbolis kepada Pimpinan Pondok Pesantren Darussyifa Al-Fithroh YASPIDA, K.H. E.S. Mubarok. Penyerahan ini merupakan bagian dari program pemerintah untuk memberikan kepastian hukum atas aset lembaga pendidikan keagamaan.

“Tanah wakaf yang sudah bersertipikat akan aman dan bisa dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat,” jelas Nusron.

Tampak mendampingi Menteri ATR/Kepala BPN dalam kunjungan kerja ini, Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Kalimantan Timur, Shamy Ardian, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol. Turut hadir pula Wakil Bupati Sukabumi, Andreas; Kepala Kepolisian Resor Sukabumi, AKBP Samian; serta Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Sukabumi, Wendi Isnawan.

Peringatan Milad ke-26 YASPIDA berlangsung khidmat dan meriah, diawali dengan doa bersama serta pentas seni Islami yang dipersembahkan oleh para santri. K.H. E.S. Mubarok dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas perhatian pemerintah terhadap pesantren dan berharap sertipikat tanah wakaf tersebut menjadi langkah awal pengembangan lembaga yang lebih besar di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *