Polman, SANDEQ.CO.ID – Sejarah sering kali bekerja dalam keheningan. Ia tidak selalu hadir dalam ingatan kolektif bangsa melalui peristiwa besar atau tokoh yang dielu-elukan secara nasional. Namun, justru dari ruang-ruang lokal itulah nilai-nilai kebangsaan dan keberagamaan Indonesia dibentuk secara perlahan, berlapis, dan berkelanjutan. Salah satu ruang sejarah itu adalah Tanah Mandar, Sulawesi Barat, yang menyimpan jejak penting tentang bagaimana Islam tumbuh sebagai kekuatan moral dan kultural.
Di kawasan ini, nama Syekh Zakariah Hasan Al-Yamani hidup dalam ingatan masyarakat sebagai sosok ulama pendatang yang tidak sekadar menyebarkan ajaran agama, tetapi juga menanamkan etika hidup bersama. Ia datang dari Yaman, membawa tradisi keilmuan Islam yang panjang, lalu berjumpa dengan masyarakat Mandar yang telah memiliki tatanan nilai dan adat sendiri.
Pertemuan dua dunia inilah yang menarik untuk direnungkan kembali hari ini.
Islam yang Tidak Datang untuk Menghapus.
Kedatangan Syekh Zakariah ke wilayah Majene terjadi dalam konteks masyarakat pesisir yang terbuka terhadap arus luar. Namun, keterbukaan itu tidak berarti ketiadaan identitas. Masyarakat Mandar telah memiliki sistem sosial, etika kehormatan, dan struktur kekuasaan yang mapan.
Alih-alih memposisikan Islam sebagai antitesis budaya lokal, Syekh Zakariah justru membaca tradisi sebagai ruang dialog. Islam hadir bukan untuk menghapus, melainkan untuk mengarahkan. Nilai-nilai tauhid, keadilan, dan akhlak disampaikan melalui bahasa yang dipahami masyarakat setempat.
Model dakwah semacam ini menghasilkan penerimaan yang bersifat organik. Islam tidak dipandang sebagai kekuatan asing, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia tumbuh beriringan dengan adat, bukan berhadap-hadapan dengannya.
Dalam konteks Indonesia hari ini, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa keberagamaan yang sehat tidak lahir dari pemutusan sejarah, melainkan dari kesediaan untuk berdialog dengan realitas sosial.
Ulama dan Kekuasaan : Relasi Etis
Jejak Syekh Zakariah juga tercatat dalam relasinya dengan penguasa Kerajaan Sendana. Islam, melalui bimbingan ulama, menjadi rujukan moral dalam tata kelola pemerintahan. Namun, agama tidak dijadikan alat legitimasi kekuasaan semata.
Syekh Zakariah tidak berdiri sebagai penguasa, tetapi sebagai penyangga etika. Dalam relasi ini, ulama berperan menjaga agar kekuasaan tidak melenceng dari nilai keadilan dan kemaslahatan rakyat. Sebuah relasi yang menempatkan agama sebagai penuntun, bukan sebagai justifikasi.
Relasi semacam ini terasa semakin relevan di tengah tantangan demokrasi Indonesia, ketika agama kerap ditarik ke dalam kontestasi politik yang pragmatis. Sejarah Mandar mengingatkan bahwa peran moral agama justru penting ketika ia mampu menjaga jarak kritis dari kekuasaan.
Somba dan Ingatan Kolektif
Pusat aktivitas dakwah Syekh Zakariah berada di Somba, sebuah kawasan pesisir yang kemudian berkembang sebagai ruang pendidikan dan penyebaran Islam. Dari tempat ini, ajaran agama diturunkan melalui pengajaran, teladan hidup, dan pembinaan generasi.
Makam Syekh Zakariah di Somba hingga kini menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Mandar. Ia bukan sekadar situs ziarah, tetapi penanda bahwa Islam di kawasan ini dibangun oleh kesabaran dan keberlanjutan, bukan oleh ledakan konflik atau ekspresi kekerasan.
Dalam masyarakat modern yang sering kali terputus dari sejarah lokalnya, ingatan semacam ini menjadi penting. Ia menjaga kesinambungan nilai, sekaligus menawarkan perspektif alternatif tentang bagaimana agama seharusnya hadir di ruang publik.
Refleksi untuk Indonesia
Apa yang dapat dipetik Indonesia dari kisah ini?
Pertama, bahwa Islam Indonesia memiliki akar sejarah yang moderat dan dialogis. Moderasi bukanlah jargon baru, melainkan pengalaman historis yang telah lama dipraktikkan di berbagai daerah.
Kedua, bahwa agama akan kehilangan daya cahayanya ketika dilepaskan dari konteks sosial dan budaya. Islam justru menemukan kekuatannya ketika ia mampu menjadi etika hidup bersama.
Ketiga, bahwa masa depan keberagamaan Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras menyuarakan kebenaran, tetapi oleh siapa yang paling konsisten menjaga kebijaksanaan, ilmu, dan kemanusiaan.
Menjaga Arah Sejarah
Mengenang Syekh Zakariah Hasan Al-Yamani bukanlah upaya memuliakan masa lalu secara romantis. Ia adalah ajakan untuk menjaga arah. Arah Islam yang mencerahkan, berakar pada tradisi, dan berpihak pada martabat manusia.
Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh klaim dan identitas, barangkali Indonesia justru perlu kembali belajar dari jejak-jejak sunyi para ulama seperti Syekh Zakariah—jejak yang tidak memekakkan suara, tetapi membentuk peradaban.(*)
*Penulis merupakan staf ahli Bupati Bidang Hukum Politik dan Pemerintahan dan juga Penulis Buku Annangguru Di Mandar. Selain itu, beliau aktif mengajar di beberapa kampus diantaranya STAIN Majene, UI AGH. Abdurrahman Ambo Dalle dan Institut Hasan Sulur.
Editor : Redaksi












