Bukan Hanya Hewan, Menteri Nusron Ajak Umat Islam “Sembelih” Ego dan Keserakahan

Berita35 Dilihat

Jakarta, SANDEQ.CO.ID – Suara takbir menggema di Masjid Raya Al-Ittihaad, Jakarta, Rabu pagi (27/5/2026). Ratusan jamaah salat Iduladha dengan khusyuk mengikuti setiap gerakan imam. Namun, khutbah yang disampaikan kali ini terasa berbeda. Bukan sekadar soal kurban dan penyembelihan hewan, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, yang bertindak sebagai khatib, menyampaikan pesan yang menusuk relung hati.

“Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang menyembelih ego, hawa nafsu, keserakahan, dan rasa tidak peduli kita kepada sesama, terutama sesama umat manusia,” ujar Nusron dengan suara lantang yang menggema di antara dinding masjid.

Menurutnya, ibadah kurban pada hakikatnya adalah proses menundukkan diri, membersihkan hati, dan melatih keikhlasan. Semakin tinggi ketakwaan seseorang kepada Allah, ia menegaskan, seharusnya semakin besar pula kepeduliannya terhadap manusia lain.

Nusron mengingatkan jamaah bahwa Allah SWT tidak akan melihat bentuk fisik daging atau darah kurban yang mengalir. Yang sampai kepada-Nya hanyalah ketulusan niat dan ketakwaan, sebagaimana disebut dalam Surat Al-Hajj ayat 37. Dari ketakwaan itulah lahir manusia yang rela berkorban demi kebaikan, bukan manusia yang hanya mementingkan diri sendiri.

Tantangan umat di masa ini, lanjut Nusron, bukan sekadar kemiskinan materi. Yang lebih berbahaya adalah kemiskinan hati. Ia menggambarkan bagaimana banyak orang yang berkecukupan secara finansial tetapi kehilangan empati. Ada yang berilmu tetapi kasar dalam bertutur, serta rajin beribadah namun sulit menghargai orang lain.

“Padahal Rasulullah SAW mengajarkan sekaligus mengingatkan kepada kita, tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri,” tegas Nusron di hadapan jamaah yang tampak merenung.


Menteri asal Partai Golkar itu pun mengajak seluruh umat Islam menjadikan momen Iduladha sebagai ruang refleksi. Apakah ibadah yang dijalankan selama ini telah membawa perubahan sikap dalam kehidupan sehari-hari? Sebab, ketakwaan yang benar, ujarnya, akan selalu melahirkan empati dan tanggung jawab sosial di tengah masyarakat.

Ia menutup khutbahnya dengan pesan yang menyentuh. Iduladha harus menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus mempererat hubungan antarsesama manusia.

“Kalau ada yang renggang, mari kita damaikan. Kalau ada yang terluka, mari kita maafkan. Karena, ketakwaan sejati bukan hanya di sajadah, tetapi juga dalam kepedulian kepada sesama,” pungkas Nusron, disambut suara “amin” yang dipanjatkan khusyuk oleh seluruh jamaah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *