Polman, SANDEQ.CO.ID - Di Polewali Mandar, visi pembangunan itu terdengar seperti doa panjang setelah salat: sehat, cerdas, maju, berbudaya, berwawasan lingkungan. Lengkap. Khusyuk. Tinggal diaminkan.
Masalahnya, setiap hujan turun yang mengaminkan justru genangan air. Jalanan berubah jadi kolam dadakan. Drainase mampet. Warga sudah hafal pola aliran air, bahkan mungkin lebih hafal daripada peta tata ruang pemerintah. Kalau ini dilombakan, mungkin sudah ada medali untuk kategori “bertahan hidup di tengah visi”.
Lalu masuklah tokoh utama kita “TPST Paku.”
Diuji coba tahun lalu, difoto, diresmikan, dipuji. Semua berjalan sesuai skenario, sampai akhirnya berhenti di titik paling Indonesia “menunggu fasilitas pendukung.”
Kata Plt DLHK, TPST ini belum bisa jalan karena masih menunggu pasokan gas CNG. Luar biasa, Kita akhirnya punya teknologi pengelolaan sampah modern yang kalah oleh kompor gas di dapur ibu-ibu.
Bayangkan ini.
Kita sudah bangun “pabrik masa depan”, tapi operasionalnya tergantung pada tabung gas yang masih OTW entah dari mana. Ini bukan lagi soal teknis, ini sudah masuk genre drama logistik.
Sementara itu, sampah tidak ikut menunggu.
Dia tidak peduli ada CNG atau tidak. Dia kerja tiap hari, Konsisten, Disiplin. Bahkan mungkin lebih disiplin daripada sebagian program pemerintah.
Sampah menumpuk.
Masuk ke drainase.
Drainase tersumbat.
Hujan turun.
Banjir datang.
Ini bukan siklus alam. Ini kurikulum tetap.
Dan di tengah semua itu, pemerintah tetap terlihat sibuk mengurus hal-hal besar. “sinkronisasi program nasional, rapat koordinasi, kunjungan kerja, dan tentu saja, foto bersama yang tampak kering, bersih, dan bebas genangan.”
Sementara di luar frame, warga sedang berenang dalam realitas.
Ironinya sederhana. kita punya visi “bebas banjir”, tapi air tetap datang tanpa izin. kita punya TPST, tapi sampah tetap jalan sendiri. kita punya rencana, tapi yang benar-benar bekerja justru masalahnya.
Mungkin memang begini konsep “berwawasan lingkungan” versi kita.!
lingkungan dibiarkan bekerja sendiri, pemerintah cukup mengawasi dari jauh.
Dan sampai hari itu berubah, TPST akan tetap menunggu gas, drainase akan tetap menunggu kesadaran, dan warga akan tetap menunggu, entah mana yang datang lebih dulu. solusi, atau hujan berikutnya.
Sumber : JOL ( Jaringan Oposisi Loyal )
Laporan. : Anshar Editor. : Redaksi












