Polman, SANDEQ.CO.ID – Dalam diskursus kepemimpinan daerah, 300 hari seringkali dianggap sebagai masa “bulan madu” atau fase transisi yang masih berkutat pada konsolidasi internal. Namun, bagi pasangan kepemimpinan ASSAMI di Polewali Mandar (Polman), rentang waktu singkat antara Februari hingga Desember 2025 ini justru menjadi momentum pembuktian bahwa akselerasi bukanlah hal yang mustahil jika didasarkan pada sinergi dan akurasi data.
Indikator makro ekonomi dan sosial yang baru saja dirilis menunjukkan tren positif yang signifikan, menggeser narasi janji kampanye menjadi capaian yang terukur.
Lompatan Status Pembangunan Manusia
Salah satu capaian yang paling patut digarisbawahi adalah kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Polman kini resmi meninggalkan kategori “Sedang” dan menembus ambang batas Kategori Tinggi, dengan kenaikan angka dari 69,88 ke 70,71.
Pencapaian ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan refleksi dari perbaikan kualitas hidup masyarakat secara fundamental. Usia Harapan Hidup (UHH) yang kini mencapai 71,46 tahun menjadi bukti adanya perbaikan akses layanan kesehatan dasar dan kualitas sanitasi yang semakin merata di Bumi Mandar.
Mengurai Benang Kusut Kemiskinan
Di sektor pengentasan kemiskinan, Polman mencatatkan diri sebagai daerah dengan penurunan angka kemiskinan tercepat di Sulawesi Barat, yakni dari 15,66% menjadi 14,02%. Strategi yang digunakan cukup taktis, memadukan bantuan sosial yang tepat sasaran dengan dorongan kemandirian ekonomi.
Hal ini terlihat dari keberhasilan 857 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH yang melakukan “graduasi mandiri”—sebuah istilah yang menandakan bahwa mereka telah berdaya secara ekonomi dan keluar dari ketergantungan bantuan pemerintah. Efektivitas ini didukung pula oleh pembangunan fisik yang menyentuh akar rumput, seperti renovasi 76 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang berjalan beriringan dengan pembangunan kapasitas manusianya.
Mengamankan Lumbung Pangan dan Produksi
Sebagai tulang punggung ekonomi daerah, sektor agraris mendapatkan perhatian khusus melalui mekanisasi dan revitalisasi. Langkah nyata telah diambil melalui penyaluran lebih dari 1 juta bibit kakao serta ratusan unit alat mesin pertanian (alsintan) untuk memastikan efisiensi di tingkat petani.
Tidak hanya di sisi produksi, pemerintah juga menjaga stabilitas di sisi konsumsi. Di tengah gejolak ekonomi global, Polman berhasil mengendalikan inflasi dan bahkan mencatat deflasi pada bulan-bulan strategis, yang memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga. Pengakuan dari Badan Pangan Nasional dengan sertifikat kategori “Baik” (B) semakin mempertegas bahwa keamanan pangan di Polman berada dalam pengawasan yang mumpuni.
Fondasi Menuju Polman Maju
Keberhasilan akselerasi dalam 10 bulan pertama ini berakar pada kemampuan duet ASSAMI dalam melakukan sinergitas anggaran—menjahit pendanaan dari tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga Pusat (APBN) menjadi satu kesatuan program yang koheren.
Visi “Polewali Mandar Sehat, Cerdas, dan Maju” kini bukan lagi sekadar slogan politik. Dengan fondasi data yang kuat dan penguatan pada sektor riil, Polman telah memposisikan dirinya sebagai lokomotif ekonomi di Sulawesi Barat. Tantangan ke depan tentu tidak ringan, namun arah pembangunan yang telah diletakkan dalam 300 hari ini memberikan harapan baru bagi masa depan Polewali Mandar.(*)
*Kepala Dinas Kominfo SP Polewali Mandar
Editor : Redaksi






