Polman, SANDEQ.CO.ID – Dalam lanskap birokrasi, 300 hari sering kali dianggap sebagai masa “bulan madu”. Namun, bagi kepemimpinan ASSAMI di Polewali Mandar, sepuluh bulan pertama ini justru menjadi periode pembuktian melalui kebijakan yang menyentuh urat nadi masyarakat: infrastruktur dasar dan tata kelola lingkungan. Di bawah tinjauan kritis, langkah yang diambil tampak bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya sistematis mengejar ketertinggalan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Salah satu poin mencolok dalam rapor 300 hari ini adalah keberhasilan mengamankan penanganan jalan long segment sepanjang 113,45 km melalui dana APBN. Ini bukan angka sembarang. Kemampuan menarik anggaran pusat ke daerah menunjukkan efektivitas lobi politik dan koordinasi lintas level pemerintahan yang selama ini sering menjadi sumbatan di banyak daerah.
Secara lokal, pembangunan jalan sepanjang 8.536 meter yang tersebar di berbagai kecamatan menandakan upaya de-sentralisasi pembangunan. Dengan memperbaiki akses di perbatasan Sulbar-Sulsel, ASSAMI sedang berupaya menurunkan biaya logistik yang selama ini mencekik pendapatan riil petani dan warga pelosok.
Paradigma Baru Mengelola Sampah
Lama menjadi momok, masalah sampah di Polman mulai didekati dengan kombinasi teknologi dan ekonomi sirkular. Pengadaan incinerator berkapasitas 20 ton per hari hadir sebagai solusi jangka pendek untuk memutus kebuntuan di TPA. Namun, yang lebih menarik adalah pergeseran budaya melalui Bank Sampah yang mencatat kenaikan nasabah hingga 30%.
Pengiriman 43,8 ton sampah plastik ke Makassar adalah bukti otentik bahwa sampah mulai dipandang sebagai komoditas ekonomi, bukan sekadar limbah. Kehadiran peta jalan (roadmap) mesin pemilah kapasitas 30 ton pada 2026 memberikan sinyal bahwa kebijakan ini dirancang untuk jangka panjang, bukan sekadar pemadam kebakaran atas keluhan publik.
Intervensi pada sektor air minum di 17 lokasi dan sanitasi (SPALD) di 28 titik (900 Sambungan Rumah) adalah investasi pada sektor kesehatan publik. Secara teoretis, akses air bersih adalah kunci utama menurunkan angka stunting. Jika angka kesakitan turun, maka Umur Harapan Hidup—salah satu komponen utama IPM—akan terkerek naik secara linear.
Fokus pada wilayah seperti Desa Batetangnga melalui program P3KE menunjukkan adanya targeting yang presisi dalam penghapusan kemiskinan ekstrem. Strategi ini memastikan bahwa kue pembangunan tidak hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan.
Catatan Kritis : Ujian Keberlanjutan
Meski rapor awal ini terlihat masif, tantangan sesungguhnya terletak pada aspek sustainability atau keberlanjutan. Membangun jauh lebih mudah daripada memelihara. Drainase sepanjang 1.239 meter yang telah rampung akan menjadi sia-sia jika perilaku membuang sampah sembarangan tidak berubah dan pengawasan dari pemerintah melempem.
Kemandirian desa juga menjadi catatan krusial. Saat ini baru terdapat 5 unit TPS3R yang aktif. Agar beban kabupaten berkurang, ASSAMI harus mampu mendorong setiap desa untuk mengelola sampahnya secara mandiri.
Dalam 300 hari, ASSAMI telah berhasil meletakkan “batu fondasi” yang kokoh. Polewali Mandar kini memiliki modalitas untuk menjadi daerah yang lebih sehat dan maju. Kini, publik menunggu apakah ritme akselerasi ini dapat dijaga secara konsisten, ataukah hanya akan menjadi letupan prestasi di awal masa jabatan.(*)
*Kepala Dinas Kominfo SP Polewali Mandar.
Editor : Redaksi






