Polman, SANDEQ.CO.ID – Ramadhan hampir pergi. Ia tidak pernah benar-benar berpamitan dengan kata-kata, tetapi tanda-tandanya terasa begitu nyata: malam-malam yang mulai lengang, masjid yang perlahan kehilangan riuhnya, dan hati yang diam-diam bertanya—apakah aku sudah cukup memanfaatkannya?
Detik-detik terakhir ini selalu menyisakan rasa yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar sedih, tetapi semacam kehilangan yang dalam. Seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa tamu agung yang datang dengan membawa rahmat, ampunan, dan keberkahan. kini hendak pulang, sementara kita belum sempat menjadi tuan rumah yang layak.
Ramadhan adalah waktu di mana langit terasa lebih dekat. Doa-doa meluncur lebih ringan, air mata lebih mudah jatuh, dan hati yang keras pun mulai retak. Namun, justru di penghujungnya, kita sering dihantui satu pertanyaan yang menyesakkan : apakah aku benar-benar berubah, atau hanya terbawa suasana?
Masih teringat awal Ramadhan, ketika semangat begitu membara. Kita berjanji pada diri sendiri untuk lebih banyak membaca Al-Qur’an, lebih khusyuk dalam shalat, lebih lembut dalam berbicara, dan lebih ringan tangan dalam berbagi. Tetapi kini, di ujung perpisahan, kita menoleh ke belakang dan menemukan bahwa tidak semua janji itu tertunaikan.
Ada malam yang terlewat tanpa ibadah.
Ada ayat yang tak sempat dibaca.
Ada hati yang masih tersakiti oleh ucapan kita.
Dan ada dosa yang mungkin masih kita ulangi tanpa sadar.
Ramadhan tidak pernah menuntut kesempurnaan, tetapi ia mengajarkan kejujuran. Jujur pada diri sendiri—bahwa kita masih lemah, masih jauh dari kata baik, tetapi tidak pernah terlambat untuk kembali.
Di detik-detik terakhir ini, justru pintu langit terbuka paling lebar. Malam-malam ganjil menyimpan kemungkinan terbesar turunnya Lailatul Qadar—malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun, ironisnya, di saat peluang terbesar itu hadir, sebagian dari kita mulai melemah. Lelah, sibuk dengan persiapan dunia, atau bahkan terlena oleh rutinitas yang kembali seperti biasa.
Padahal, mungkin inilah Ramadhan terakhir kita.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya mengguncang. Tidak ada satu pun dari kita yang memiliki jaminan akan bertemu kembali dengan bulan suci ini di tahun depan. Banyak orang yang tahun lalu berpuasa bersama kita, kini hanya tinggal nama dalam doa.
Maka, apa yang kita tunggu?
Jika hati masih keras, lunakkanlah dengan istighfar.
Jika langkah terasa berat, paksa diri untuk sujud lebih lama.
Jika air mata belum juga jatuh, mintalah pada Allah agar hati ini kembali hidup.
Jangan biarkan Ramadhan pergi tanpa meninggalkan bekas. Jangan biarkan ia menjadi sekadar ritual tahunan yang berlalu tanpa perubahan.
Sebab, hakikat Ramadhan bukan pada seberapa lama kita berpuasa, tetapi pada seberapa dalam ia mengubah kita.
Detik-detik terakhir ini adalah kesempatan emas untuk menebus kelalaian. Bukan saatnya lagi menghitung berapa banyak yang sudah kita lakukan, tetapi berapa banyak yang masih bisa kita perbaiki. Satu sujud yang tulus bisa lebih berarti daripada seribu amal tanpa keikhlasan.
Menjelang perpisahan ini, seharusnya kita menangis—bukan karena Ramadhan pergi, tetapi karena kita takut tidak lagi menjadi hamba yang sama setelah ia pergi.
Apakah kita akan tetap bangun di sepertiga malam?
Apakah kita masih akan membaca Al-Qur’an dengan penuh cinta?
Apakah kita tetap menjaga lisan dan hati seperti saat berpuasa?
Ataukah semua itu akan ikut pergi bersama Ramadhan?
Jika Ramadhan adalah guru, maka kini adalah ujian akhirnya. Bukan tentang apa yang kita lakukan selama ia hadir, tetapi apa yang tetap kita jaga setelah ia pergi.
Biarkan Ramadhan meninggalkan jejak.
Dalam sujud yang lebih panjang.
Dalam hati yang lebih lembut.
Dalam hidup yang lebih dekat dengan Allah.
Dan ketika akhirnya ia benar-benar pergi, semoga kita tidak hanya mengucapkan “selamat tinggal,” tetapi juga “terima kasih”—karena telah mengajarkan kita arti kembali.
Kembali kepada Tuhan.
Kembali kepada diri sendiri.
Dan kembali menjadi manusia yang lebih baik. Jika ini benar-benar Ramadhan terakhir kita,maka biarkan ia menjadi yang paling bermakna.(*)
Editor : Redaksi






