Polman, SANDEQ.CO.ID – Dalam diskursus kepemimpinan kontemporer, sering kali terjadi dikotomi antara profesionalisme dan religiusitas. Namun, melalui kacamata Aco Musaddad HM, sosok Samsul Mahmud hadir sebagai antitesis yang mematahkan sekat tersebut. Beliau bukan sekadar Bupati Polewali Mandar periode 2025-2029, melainkan seorang dirigen perubahan yang mampu menyelaraskan irama birokrasi, ambisi politik, dan ketulusan spiritual.
Akselerasi Pembangunan : Manifestasi Insting Pengusaha
Keberhasilan Samsul Mahmud dalam memimpin Polewali Mandar dalam waktu singkat adalah buah dari efisiensi seorang pengusaha sukses. Aco Musaddad mencatat prestasi yang nyaris mustahil dilakukan tanpa visi yang tajam :
- Transformasi Ekonomi, Dalam kurun waktu hanya satu tahun, ia berhasil menekan angka kemiskinan secara signifikan. Kebijakannya tidak bersifat konsumtif, melainkan produktif, membuka keran ekonomi kerakyatan yang berdampak langsung pada kesejahteraan rumah tangga.
- Lompatan IPM dan Digitalisasi, Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi bukti bahwa sektor pendidikan dan kesehatan adalah prioritas utama. Hal ini dibarengi dengan penguatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), sebuah langkah berani untuk menciptakan transparansi total dan memangkas budaya birokrasi yang lamban menjadi layanan publik yang cepat dan akuntabel.
- Legitimasi Politik, Aklamasi dan Kepercayaan Publik
Kapasitas kepemimpinan Samsul Mahmud tidak hanya diakui di eksekutif, tetapi juga di kancah politik formal. Terpilihnya beliau sebagai Ketua Partai Golkar Sulawesi Barat secara aklamasi adalah sebuah pesan kuat tentang legitimasi. Aklamasi menunjukkan bahwa beliau adalah figur pemersatu yang mampu merangkul semua faksi, menjembatani perbedaan, dan membangun kepercayaan (trust) yang solid di tingkat provinsi. Bagi seorang politisi, kepercayaan mutlak seperti ini adalah modal utama dalam memperjuangkan kebijakan yang pro-rakyat di tingkat legislatif.
Filantropi Tanpa Pamrih : Melayani dengan “Dompet Pribadi”
Inilah bagian yang paling menyentuh dalam ulasan Aco Musaddad. Religiusitas Samsul Mahmud bukanlah religiusitas panggung yang hanya muncul di depan kamera. Beliau mempraktikkan apa yang disebut sebagai Spiritual Leadership :
- Investasi Peradaban, Beliau tidak ragu menghibahkan tanah pribadinya untuk pembangunan pesantren, perguruan tinggi, hingga Sekolah Rakyat. Ini adalah bentuk nyata dari keberpihakan pada masa depan generasi muda dan dakwah Islamiyah.
- Kedermawanan Senyap, Satu hal yang menjadi catatan emas adalah kebiasaannya membangun dan merenovasi rumah ibadah menggunakan dompet pribadinya. Di saat banyak pejabat bergantung pada dana hibah pemerintah yang birokrasinya panjang, Samsul Mahmud hadir dengan solusi instan dari kantong sendiri. Beliau memahami bahwa rumah Tuhan tidak boleh menunggu birokrasi untuk menjadi tempat yang layak bagi umat.
Kedekatan dengan Ulama dan Akar Rumput
Sebagai akademisi dari lingkungan DDI, Aco Musaddad melihat bahwa kekuatan utama Samsul Mahmud terletak pada tawadhu-nya kepada para Ulama. Beliau memposisikan Ulama bukan sekadar pemberi doa saat seremonial, melainkan guru bangsa yang nasihatnya didengar dalam setiap pengambilan kebijakan penting. Hubungan ini menciptakan stabilitas sosial yang harmonis di Polewali Mandar.
Pemimpin yang Telah Selesai dengan Dirinya
Samsul Mahmud adalah prototipe pemimpin yang dibutuhkan di era disrupsi. Beliau memiliki ketegasan seorang Bupati, kecerdikan seorang Pengusaha, pengaruh seorang Ketua Partai, dan ketulusan seorang Muslim yang taat.
Melalui ulasan ini, kita melihat seorang tokoh yang tidak lagi mencari kekayaan dari jabatan, melainkan menggunakan kekayaannya untuk memuliakan jabatan. Ia adalah pemimpin yang bekerja dengan data (IPM, SPBE), namun tetap melangkah dengan restu langit dan doa para Ulama.(*)
*Kadis Kominfo SP Polewali Mandar dan Dosen Pasca Sarjana Universitas Islam DDI AGH Abd Rahman Ambo Dalle dan Institut Hasan Sulur
Editor : Redaksi






